Ya, aku dilahirkan dari benih rahim mamaku yang sangat menantikan kehadiranku saat itu, begitu juga papa yang sibuk dengan pekerjaannya sedikit meluangkan waktunya untukku dan juga mamaku.
Aku fikir kegagalan papa dan mamaku di pernikahan ini membuat mereka belajar bagaimana mencintai dan menghargai satu sama lain. Namun, tak ada satupun di benak mereka terbesit rasa saling menghargai, tetap yang mereka jaga adalah ego mereka masing-masing, hingga aku bertanya kenapa orang yang sudah menikah dan mencintai bisa terpisah? Dan pada saat itu akupun menemukan jawabannya, jawaban dimana keegoisanlah yang menjadi penyebabnya, bukan karena masalah materi, buat mereka materi mudah untuk dicari. Inilah awal penderitaanku.
Sejak kecil aku sudah terbiasa melihat orang membanting piring, mencaci maki, atau melempar apapun benda yang ada di depan mereka. Ya Ya Ya mencoba bersikap biasa karena memang harus terbiasa, pertengkaran ini ku anggap biasa, dan sebenarnya yang menjadi pemicunya juga hal yang lumrah, yang seharusnya bisa diatasi dengan hal yang biasa pula.
Disinilah awal penderitaanku, orang selalu bilang, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, sampai sekarang hanya itu yang menjadi pegangan terkuatku. Masa kecilku bahagia, sungguh bahagia seharusnya, bahkan hampir mendekati kata sempurna masa kecilku, disaat anak-anak yang lain harus merengek untuk dibelikan mainan, aku tidak perlu merengek seperti mereka, apa yang aku mau pasti aku dapat, dan aku menjadi anak yang manja, sampai menjadi anak yang tidak tahu situasi, yang membuatku tidak sempurna adalah keluargaku yang kacau balau, entah karena apa, pertengkaran pasti selalu ada, mungkin dari sifat pencemburu dan kasar dari papa, atau keegoisan mamaku.
Usiaku dulu baru 2 tahun, sejak saat itulah mama mulai meninggalkanku dan hak asuhku ada ditangan papa. Dari sini aku belajar memang semua tidak ada yang sempurna, pertengkaran di keluargaku pun seperti makanan hidupku sehari-hari, sampai akhirnya aku mulai beranjak dewasa, mulai mengerti perasaan, mulai menjadi peduli akan keadaan. Disaat kepedulianku muncul saat itu juga semuanya hancur.
Hancur benar-benar hancur, apalagi yang lebih menyakitkan melihat orang tuaku bercerai ? bercerai disaat usiaku yang ke 2 tahun, dimana seharusnya aku lebih banyak diperhatikan oleh orang tuaku, di timang-timang, di manja, diberikan pelukan serta ciuman yang hangat dari kedua orang tuaku tetapi hanya perasaan sakit yang aku tau dan aku rasakan pada saat itu,
Sejak saat itulah penderitaan dan cobaan seolah-olah betah hidup mendampingiku. Menjadi anak broken home yang membuatku menjadi tak tau adat dan aturan, mulai dari pulang larut malam, bergaul dengan yang bukan sebaya, sehingga membuatku menjadi seorang anak yang dewasa sebelum waktunya.
Sejak perceraian itu, mamaku tak kunjung usaha untuk mendapatkanku agar mau tinggal bersamanya, sampai akhirnya papa memindahkan aku sekolah dan menitipkan aku kepada nenek dan kakek dan ini sama sekali tidak membuatku menjadi anak yang tumbuh seperti apa yang diharapkan oleh orang tua. Pebangkang, inilah yang menjadi sifat utamaku sekarang, aku begini bukan tanpa alasan, karena memang aku punya sebab, hingga aku suka merasa kasihan pada anak yang tumbuh sepertiku namun dia masih memiliki keluarga yang utuh, dan aku anggap itu barulah yang dinamakan anak tidak tahu diri.
Tak sampai disini penderitaanku, setelah perceraian bapak dan ibuku syah dimata hukum, setahun kemudian mama pun menikah lagi tanpa berfikir panjang bagaimana perasaanku. Pernah aku bertanya kepada mama “ma, kalo nanti sudah cerai mama mau nikah lagi?”mamaku pun menjawab “engga, demi Allah tidak akan menikah lagi”, namun kenyataanya ,Suami mamaku memang keras, ia melarang mamaku untuk berkomunikasi lagi denganku. dan pada akhirnya sejak saat itu mama tak pernah memberi kabar lagi kepadaku. sejak dari situ aku mulai membenci mamaku, benci sungguh2 benci, sampai aku malas untuk bertemu dengan dia. Aku selalu membangkangnya, tak mau mendengarkan nasihat dia lagi, melihatnyapun aku sudah malas dan muak !!
Sejak saat itu pula aku tumbuh menjadi anak yang posesif, aku juga tak mau seperti ini, karena ini menyiksaku dan menyiksa orang yang aku sayang juga, namun yang harus diketahui, keposesifanku ini karena aku trauma melihat perceraian, dan aku benci dengan orang yang mudah berselingkuh karena aku telah melihat itu dari mamaku.
Lalu papa pun menikah lagi sejak aku duduk dibangku kelas 2 SD, yah aku memang membutuhkan sosok seorang ibu yang hadir untukku. Akhirnya aku pun mendapatkan mama baru, pada awalnya memang baik, tapi memang sangat baik sekali.
Sempat juga aku berfikir bahwa hidup ini tak adil buatku, aku iri dengan teman-temanku yang bahagia dan diperhatikan dengan orang tuanya, terkadang aku ingin sekali membalas rasa sakit hatiku, bagaimana rasanya ditinggal oleh seorang ibu karena aku ingin membalasnya saat dia dulu tak perhatikan aku. Aku tidak sedih melihatnya ditinggal oleh suami barunya, aku senang dan bahagia melihat dia diperlakukan seperti itu, aku ingin tahu apa yang aku rasakan, ditinggal dan dikecewakan. Tetapi walau bagaimanapun seburuk-buruknya seorang ibu kandung, ia adalah ibu kandungku yang telah melahirkanku kedunia ini, Allah telah menyuruh kita untuk berbakti kepada kedua orang tua, bukankah begitu? seperti dalam hadist Rassulullah SAW bersabda: ada seorang sahabat yang datang dan bertanya kepada Rassulullah "siapa yang Pertama engkau muliakan? lalu Rassulullah pun menjawab "ibumu, ibumu, ibumu baru ayahmu".
Masa-masa SMA pun aku selesaikan di sebuah pondok pesantren, aku tak mau seperti teman-temanku yang selalu menjilat orangtuanya demi keinginannya, bahkan aku bertekad untuk mencari uang sendiri untuk biayakan hidupku, dan aku hanya mau berkuliah dengan uangku sendiri.
Ketegaranku semakin kuat untuk menjalani kehidupanku ini dengan adanya orang-orang tersayang disekelilingku.
Keadaanpun mulai merubahku, aku tak pernah tidak mendapat rangking disekolah, ketekunanku dalam menjalani kehidupan telah merubah cara berfikirku, dan sekarang akupun mulai meninggalkan kebiasaan buruk yang dulu menjadi bagian hidupku, entah apa yang membuatku berubah mungkin kedewasaan yang membawaku seperti ini.
Aku mulai serius dalam semua hal yang aku lakukan, seiring berjalannya waktupun aku mulai menyadari mamaku, dia sedang berada dalam kesendirian pula, kini hubunganku berubah menjadi lebih baik, walaupun terkadang aku masih merasa marah apabila mengingat teganya dia dulu padaku.
Semua ini aku jadikan pembelajaran hidup, susah dan senang sudah aku rasakan, ini membuatku menjadi mudah berfikir panjang, dulu aku senang karena orang tuaku, aku susahpun karena mereka, namun aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan memulai semuanya dari nol, akan kubuat senang anak-anakku kelak dan tak akan ada yang akan membuat mereka susah seperti aku.
Dan pesan untuk anda yang membaca ini, jadikan segala cobaan yang datang kepadamu sebagai pelajaran, bukan sebagai kesusahan.
*tidak bisa mengungkapkan terlalu detail karena air mata ini tak kuat jika harus mengingatnya....
